Selamat pagi, rasa syukur aku ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang telah menghadirkan Mamak Salimah ke dunia ini. Lantaran kasih dan sayangnya, yang telah menjadikan aku wanita seperti sekarang ini. Di mana pun aku berada, pada setiap tanah yang ku pijak, benar bahwa aku akan selalu merindukan tempat yang ku sebut, rumah.
‘Ibu’, begitu mulia peran seorang ibu hingga pada kitab suci Al Qur’an namanya disebut sebanyak tiga kali sebelum engkau menyebut kata ‘Ayah’. ‘Ibu’, berjuta kata manis nan indah yang engkau panjatkan pada Sang Pencipta, hingga menembus batas dunia ini, untuk mendoakan anak-anakmu. Agar hidupnya damai dan bahagia, agar nasibnya baik dan tak kurang suatu apapun. Rasanya, apabila aku mampu untuk memberikan dunia beserta seisinya, takkan mampu untuk membalas cintamu. Penderitaan serta luka yang engkau rasakan, kau sembunyikan, lalu kau biaskan pada senyummu yang tulus.


‘Ibu’, dia ada pada jalan-jalan, rumah-rumah, sawah, kebun untuk mencari berkah dari Tuhan. Rela terluka dan menyapu lelah demi menyambung hidup. Ia yang menahan malu ketika meminjam uang pada mandor untuk membayar buku sekolah anaknya. Ia yang sudah tak peduli ketika dimarahi oleh majikan karena lalai bekerja, bahwasanya ia menangis dalam hati oleh sebab anaknya sakit. Wanita rela terluka demi buah hati dan keluarganya. Kesejahteraan, terkadang hanya menjadi angan-angan saja bagi sebagian mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Seperti kita tahu, tidak semua masyarakat memiliki taraf hidup yang layak. Masih banyak saudara kita yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita. Bahwa kemerdekaan yang kita raih 74 tahun lamanya, belum semua masyarakat dapat merasakan. Masih terdengar isak tangis anak-anak yang kelaparan, namun kau tidak mendengarnya. Masih terlihat wanita yang terluka mengalami kekerasan dalam rumah tangga, namun kau tak melihatnya. Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan, "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Begitu luasnya makna penjajahan, bahkan terkadang diri kita sendiri tidak menyadari bahwasanya kita sedang terjajah, atau bahkan menjajah diri orang lain.


Seluruh elemen masyarakat memegang peranan penting untuk menentukan masa depan bangsa. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, yang harus kita tunaikan sebagai warga negara Indonesia. Tak terkecuali ikut andil dalam mengurangi angka kemiskinan untuk kesejahteraan masyarakat melalui berbagai upaya, seperti peningkatan pendidikan, kesehatan, perlindungan atas HAM, serta membuka lapangan pekerjaan yang luas. Berbagai upaya tersebut juga dilakukan oleh pemerintah, khususnya dalam usaha untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, salah satunya adalah dengan membuat program Pembiayaan Ultra Mikro (UMi), yang mana program tersebut merupakan tahap lanjutan dari program bantuan sosial menjadi kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah, yang belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam pelaksanaan program, Pemerintah menunjuk Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai coordinated fund pembiayaan UMi. Pembiayaan UMi disalurkan melalui LKBB. Saat ini lembaga yang menyalurkan pembiayaan UMi antara lain: PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaan berasal dari APBN, kontribusi pemerintah daerah dan lembaga-lembaga keuangan, baik domestik maupun global (https://www.kemenkeu.go.id/umi).


UMi merambah pada para pelaku usaha mikro dan memberdayakannya dalam upaya untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat. Bagi kaum perempuan, UMi dapat menjadi sarana kemandirian yang cukup efektif. Sebab program tersebut memiliki syarat yang mudah, bunga yang relatif rendah, serta pembinaan yang diadakan secara rutin yang bermanfaat dalam menjalankan usaha. UMi memberi kesempatan kepada perempuan untuk lebih menunjukkan eksistensinya dalam menyampaikan gagasan, kesamaan hak untuk memperoleh pekerjaan serta berperan aktif dalam upaya untuk pengentasan kemiskinan.
Dan setahun belakangan ini, ku tahu ternyata Mamak ku juga merupakan salah satu anggota dari peserta yang mengikuti program ‘Mekaar’ yang berada dibawah naungan PT Permodalan Nasional Madani, dan merupakan program yang memang dikhususkan untuk wanita prasejahtera secara berkelompok. Saat itu, aku masih bekerja sebagai teller bank swasta di Kota Bekasi. Penghasilanku serta jatah dari kakak tertuaku belum sepenuhnya mampu menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga kami. Maklum, Bapak kerja serabutan, Mamak hanya ibu rumah tangga dan adik-adikku masih kecil dan membutuhkan biaya untuk sekolah. Mamak pun berniat mengikuti program tersebut untuk membuka warung sembako kecil-kecilan dan nasi rames untuk membantu perekonomian di rumah. Program tersebut nyatanya cukup membantu keluarga kami, karena setidaknya Mamak punya pegangan untuk belanja kebutuhan dapur, atau uang jajan untuk adik-adikku.


UMi membantu mengembangkan usaha warung Uwa ku dan usaha produksi tempe saudaraku di rumah. Program ini seakan sangat mendukung adanya emansipasi wanita serta kesetaraan gender, yang mana wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam membangun maupun memperoleh lapangan pekerjaan. Wanita harus berani mengungkapkan gagasan serta mampu berprestasi. Selain itu, hal ini juga dapat menyingkirkan stereotip dalam masyarakat yang mungkin masih menganggap wanita hanya bisa mengurus pekerjaan rumah tangga, namun lebih dari itu, wanita mampu bereksistensi dengan kemampuan yang ia kembangkan untuk membangun relasi dan bisnis.
Pernah pada suatu ketika di rumah aku bertanya pada Mamak,
“Mak, arep meng endi? (Ibu, mau kemana?)” tanyaku.
“Lah, arep maca Pancasila karo berjanji. (Lah, mau baca Pancasila dan berjanji.)” jawab Mamak dengan tersenyum.
Lalu aku pun nyengir, tahu maksudnya kalau Mamak mau berangkat untuk menghadiri pembinaan dalam perkumpulan kelompok Mekaar yang diadakan rutin setiap minggu.
”Mula cah ayu, moga-moga kowe bisa dadi wong begja. Kayak wongtua mung bisa dongakna, ora bisa aweh warisan apa-apa, mung bisa aweh ilmu karo usaha nyekolahna ko pada. Kemutan mbok Ninine dongakna ko ben bisa dadi wong sing sukses. (Makanya anak cantik, semoga kamu bisa jadi seseorang yang beruntung. Seperti orangtuamu hanya bisa mendoakan, tidak bisa memberikan warisan apapun, hanya bisa memberikan warisan ilmu dengan usaha menyekolahkan kamu semua. Ingat kan Nenekmu mendoakan semoga kamu bisa jadi orang yang sukses)”, ucap Bapak. Bergetar hatiku mendengarkan ucapan tersebut, seraya mengucap syukur bahwasanya Allah SWT telah mengirimkan kedua orangtua seperti mereka. Serta mendiang nenek yang begitu mengasihi, menyayangi dan mendoakanku hingga akhir hayatnya.


Nama : Larashati Setyo Ningtyas
Kantor/Unit Kerja : Kanwil DJPb Provinsi Bengkulu/ Pelaksana Bidang PPAII
NIP : 199601012019022004
No. Telepon : 082316130411
Email : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi.

 

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

Search