Lubuksikaping

 

Pada bulan September 2018, dibeberapa daerah yang berada di Kabupaten Pasaman Barat telah terjadi bencana banjir dan Longsor yang terjadi akibat tingginya intensitas hujan sehingga terjadi luapan air sungai yang tidak terkendali dan mengkibatkan kerusakan terhadap sarana dan prasanana umum maupun perumahan penduduk. Salah satu daerah yang menerima dampak paling parah akibat dari bencana tersebut adalah Jorong Tanjung Pangkal Nagari Lingkuang Aua Kecamatan Pasaman yaitu terputusnya Jembatan Gantung Sepanjang 110 meter yang selama ini dijadikan sebagai penghubung antara pemukiman Masyarakat dengan Lahan Pertanian/Perkebunan yang menjadi sumber utama ekonomi masyarakat Tanjung Pangkal Nagari Lingkuang Aua.

Akibat bencana banjir yang sangat dirasakan oleh masyarakat selain menyebabkan kerusakan terhadap beberapa perumahan penduduk, adalah terputusnya Jembatan Gantung sepanjang 110 meter yang selama ini menjadi sarana penghubung bagi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan ekonomi. Hal ini memaksa masyarakat desa setempat yang harus menggunakan transportasi alternatif berupa kapal penyeberangan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ponton,  yang disediakan oleh pengusaha atau perorangan dengan biaya penyeberangan Rp 20.000,- per orang per hari. Hal ini menambah beban masyarakat desa yang harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyeberang sungai, hal ini dapat digambarkan dalam bentuk simulasi sebagai berikut : Jika masyarakat yang menggunakan Jembatan Gantung tersebut dalam melaksanakan kegiatan setiap harinya dirata-ratakan sebanyak ± 125 orang dan besaran ongkos transportasi yang harus mereka keluarkan dengan menggunakan fasilitas kapal penyebrangan sebesar Rp. 20.000,- per orang per hari maka jumlah pemanfaat dikali dengan besaran biaya transportasi hasilnya adalah (± 125 orang x Rp. 20.000 = Rp. 2.500.000,- per hari) dan jika jumlah tersebut dikalikan selama satu bulan maka (2.500.000 x 30 Hari= 75.000.000,- per bulan) melihat simulasi ini tentunya dapat kita bayangkan kesulitan ekonomi yang akan dihadapi masyarakat jika jembatan gantung yang selama ini dijadikan sarana penghubung tidak segera di bangun kembali.

Dari latar belakang tersebut, harapan masyarakat Jorong Tanjung Pangkal kepada Pemerintah baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat dan Pemerintah Nagari Lingkuang Aua adalah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat desa dengan membangun kembali infrastruktur jembatan gantung yang selama ini menjadi sarana penghubung bagi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan ekonomi. Hal ini butuh dilakukan segera mungkin agar rangkaian kegiatan dan aktivitas masyarakat dapat berjalan normal kembali.

Pemerintah Desa/Nagari Lingkuang Aua melalui musyawarah desa/nagari memutuskan bahwa pembangunan jembatan Tanjung Pangkal menjadi prioritas kegiatan dalam rencana kerja Pemerintah Desa/Nagari Lingkuang Aua. Kegiatan tersebut sebagai upaya penyelesaian permasalahan pasca bencana banjir yang dihadapi masyarakat Jorong Tanjung Pangkal.

Rencana pembangunan tersebut dilaksanakan dalam 2 tahap. Dengan Panjang 110 meter dan Lebar 2 meter dan kebutuhan biaya sebesar Rp. 1.425.730.500,- dengan rincian sebagai berikut:

 

Tahun 2019

Dana Desa

:              Rp. 946.298.500

 

Dana Swadaya

:              Rp. 330.000.000

Tahun 2020

Dana Desa

:              Rp. 149,432,000

 

 

 

JML DANA DESA

 

:           Rp. 1,095,730,500

JML DANA SWADAYA

 

:           Rp.    330.000.000

JUMLAH TOTAL

 

:           Rp. 1,425,730,500

Sumber dana berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja (APB) Desa/Nagari Lingkuang Aua Tahun 2019 dan Tahun 2020 serta tambahan dana swadaya yang dihimpun oleh desa dengan rincian sebagai berikut:

No

Uraian

Jumlah

1

Dana Swadaya  PT GMP

Rp. 200.000.000

2

Dana Swadaya Koperasi Bina Tani Sejahtera

Rp. 100.000.000

3

Dana Swadaya Koperasi Niat Bersama

Rp.   30.000.000

TOTAL DANA SWADAYA

Rp. 330.000.000

 

Manfaat yang diperoleh dengan dilaksanakannya pembangunan Jembatan Gantung  adalah sebagai berikut :

  • Tersedianya sarana transportasi bagi masyarakat dalam melaksanakan aktifitas.
  • Terciptanya aktivitas ekonomi yang stabil dengan terhubungnya kembali area pemukiman penduduk dengan sentra ekonomi sehingga laju pertumbuhan ekonomi masyarakat dapat ditingkatkan.
  • Berkurangnya beban biaya transportasi yang memberatkan masyarakat dalam melaksanakan berbagai aktivitas ekonomi, pendidikan dan lainnya.
  • Memudahkan interaksi sosial antara masyarakat yang terhubung dengan Jembatan Gantung sehingga terjalin komunikasi yang dapat mempererat ikatan persaudaraan dan ketentraman dilingkungan masyarakat.
  • Munculnya kawasan strategis untuk menghasilkan pemasukan tambahan dalam mewujudkan pemeratan kesejahtraan masyarakat.

 

Dana Desa sebesar Rp. 1.095.730.500,- selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat desa sekitar, juga menjadi stimulus bagi masyarakat dalam melaksanakan aktivitas perekonomian.

Jembatan Tanjung Pangkal Desa/Nagari Lingkuang Aua Kecamatan Pasaman tersebut diresmikan oleh Bupati Pasaman Barat pada tanggal 17 September 2020.

Footer

 Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

 

Kontak Kami

Hak Cipta HaDirektorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

Ikuti Kami

IKUTI KAMI

Search