Profil

Sejarah Kanwil DJPb

Sejarah

SEJARAH SINGKAT

Sejak jaman kolonial Belanda urusan Perbendaharaan Negara sudah ada di daerah-daerah yang ditangani oleh CENTRAL KANTOOR VOOR DE COMPTABILITEIT (CKC) yang bertugas melaksanakan wewenang ordonansering. Setelah pergerakan kedaulatan Republik Indonesia CKC diubah dengan menggunakan nama bahasa Indonesia menjadi Kantor Pusat Perbendaharaan Negara (KPPN). Namun kemudian, pada tahun 1964 dilakukan integrasi KPPN, KKN dan KPKas kedalam satu instansi yang disebut Kantor Bendahara Negara (KBN) yang umumnya terdapat di Ibu Kota Propinsi, sedangkan diluar ibukota propinsi dibentuk KPBN.
Semula di Purwokerto hanya terdapat  Kantor Pembantu Bendahara Negara (KPBN) yang berdiri sejak tgl. 1 April 1971. Kantor ini berada di bawah pengawasan KBN (Kantor Bendahara Negara) Semarang, termasuk dalam wilayah IV Inspektorat II Perbendaharaan di Bandung, yang daerah pengawasannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Kalimantan. Pada tahun 1973 KPBN Purwokerto ditingkatkan menjadi Kantor Bendahara Negara (KBN) Purwokerto.
Pada tahun 1975 KBN Purwokerto dipecah menjadi dua kantor yaitu Kantor Perbendaharaan Negara yang terletak di Jl. Jend. Soetoyo 1 Purwokerto, dan Kantor Kas Negara di Jl. Jend. Soedirman No. 74 Purwokerto. Tetapi pada tanggal 12 Juni 1989 Menteri Keuangan mengeluarkan Surat Keputusan No. 645/KMK.01/1989 tentang reorganisasi di DJA dalam rangka melaksanakan Sistim Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT). Maka sejak 1 April 1990 KPN dan KKN digabung menjadi satu kantor dengan nama Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Purwokerto. KPPN Purwokerto semula beralamat di Jl. Jend. Soetoyo No. 1 Purwokerto. Karena  gedung kantor kurang memenuhi persyaratan  tata  ruang  kantor  yang   ideal  serta  area parkir kendaraan

pegawai dan tamu yang tidak memadai, maka pada tahun 1996 KPPN Purwokerto menempati gedung yang lebih representatif dengan pelataran parkir yang luas, aula memadai, dan fasilitas olah raga yang cukup di Jl. DI Panjaitan no. 62 Purwokerto sampai dengan saat ini.
Selanjutnya, dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK/2004 dan Nomor 303/KMK/2004 berubah menjadi Kantor Pelayanan Perbendaharaan (KPPN) sampai sekarang .
Periode 1971 sampai dengan sekarang (KPBN hingga KPPN) telah dipimpin oleh:
1.    Drs. Pramu (1971-1975)
2.    R. Sigit (1975-1981)
3.    Drs. Soedjono (1981-1983)
4.    Djalaludin Harahap Bc Kn (1983-1986)
5.    Drs. Misuwur (1986-1990)
6.    Drs. Ichwan (1990-1993)
7.    Drs. Samandi (1993-1995)
8.    Ali Soekimin Muchrod, SH (1995-1997)
9.    Drs. D. Nainggolan (1997-1999)
10.    Drs. Tuswadi (1999-2002)
11.    Drs. Saiful Bachri, MBA  ( 2002  s.d  2004 ).
12.    Drs. Tuswadi (2004 s.d 2006 )
13.    Muldiyono, SH (2006 s.d 2007)
14.    Drs. Suhadi ( 2007 s.d 2010 )
15.    Herry Sunardjo, SH, MM (2010 s.d 2013)
16.    Maryono, SE, M.Si  (2013 s.d 2015)
17.    Suwajianto, SE  (2015 s.d 2018)

18.    Samin, SE (2018 s.d Sekarang)




1.    KEADAAN GEOGRAFIS

Banyumas secara geografis adalah wilayah Jawa Tengah bagian selatan yang dialiri Sungai Serayu, dengan bagian selatan dibatasi Samudra Hindia dan sebelah utara dilindungi Gunung Selamet, bagian timur berbatasan dengan karesidenan Kedu serta bagian barat berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat. Topografi Banyumas merupakan wilayah dataran yang tersebar di bagian tengah dan selatan serta membujur dari barat  ke timur.  Ketinggian  wilayah  Banyumas  sebagaian  besar  berada

pada kisaran 25-100 M dpl. Letak geografis Banyumas berada pada posisi 108o39’17”-109o27’15” Bujur Timur dan 7o15’05”-7o37’10” Lintang Selatan. Posisi geografis tersebut menyebabkan Banyumas memiliki iklim tropis basah dengan rata-rata suhu udara 26,3o C dengan suhu minimum 24,4o C dan maksimum 30,9o C, sedangkan  rata-rata curah hujan 2750,58 mm pertahun.
Karesidenan Banyumas meliputi empat Kabupaten yaitu Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banjarnegara. Wilayah ini dihuni sekitar tujuh juta penduduk dengan mayoritas perempuan. Mata pencaharian utama penduduk Banyumas adalah pertanian diikuti peternakan, hal ini sesuai dengan kondisi geografisnya. Suhu wilayah tertentu yang relatif dingin dengan pemandangan alam yang elok juga menjadi tempat rekreasi yang menyenangkan seperti Baturraden. Disisi lain Kabupaten Cilacap terdapat peninggalan bersejarah seperti benteng pendem, hutan mangrove, segara anakan dan mempunyai pulau yang sangat terkenal yaitu Nusakambangan.
 Dengan letak yang jauh dari pusat-pusat kekuasan jaman dulu membuat Banyumas punya kebudayaan sendiri yang berbeda dari mainstream kekuasaan-kekuasaan yang pernah ada di pulau Jawa.
Dalam berbicara masyarakat Banyumas punya gaya sendiri yang disebut “Cablaka”, bicara apa adanya, berbeda dengan gaya Jogja atau Solo yang penuh tabir atau kehalusan/krama inggil. Gaya bahasa ini dalam keseharian sering disebut gaya “ngapak”. Seni tari yang berkembang pun bukanlah seni yang bersifat eksklusif seperti sendratari Ramayana atau tari-tari kraton melainkan seni tari rakyat seperti lengger, calung, atau kuda lumping yang “kasar” dan cenderung agak “seronok”.  Sosio-antropologis yang seperti ini menimbulkan konsekuensi logis dimana hubungan atasan-bawahan, pamong-rakyat begitu longgar dan cair.

Peta Situs   |  Email Kemenkeu   |   FAQ   |   Prasyarat   |   Hubungi Kami

Hak Cipta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan RI
Manajemen Portal DJPb - Gedung Djuanda I Lt. 9
Gedung Prijadi Praptosuhardo II Lt. 1 Jl. Lapangan Banteng Timur No. 2-4 Jakarta Pusat 10710
Call Center: 14090
Tel: 021-386.5130 Fax: 021-384.6402

IKUTI KAMI

Search